Penggunaan Anime Dalam Meningkatkan Kesadaran Berzakat Di Tengah Pandemi Covid-19

Bima Hafizhan
Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor


Menurut Badan Amil Zakat Nasional, jumlah donatur selama bulan
Ramadhan pada tahun 2020 menurun. Jumlah awal yang diperkirakan akan mencapai Rp.230 triliun justru hanya terkumpul 8 triliun atau 3,5% dari prediksi pertama (Sulistyawati, 2020). Sementara jumlah penerima zakat bertambah dua kali lipat dari sebelumnya akibat pandemi Covid-19. Banyak orang menganggap bahwa penurunan ini disebabkan oleh tidak sedikit masyarakat yang kehilangan pekerjaannya di tengah pandemi. Selanjutnya pada tahun 2015, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menginfokan bahwa potensi zakat nasional pada tahun 2015 yang diprediksi mencapai Rp 268 triliun, hanya terkumpul sebanyak Rp 5 triliun. Hal ini disinyalir sebagai faktor kesadaran masyarakat dalam membayar zakat yang masih terhitung rendah (Lukihardianti, 2016).

Dalam salah satu media mainstream, Gubernur Jawa Barat kala itu, Ahmad Heryawan menyatakan pemerintah berhak untuk memaksa warga agar mau membayar zakat. Namun bukanlah hal yang bijak jika pemerintah terus menerus menyalahkan masyarakat yang malas membayar zakat. Penulis berpendapat sikap skeptis masyarakat dalam berzakat sebagai akibat strategi institusi pemerintah maupun lembaga pendidikan untuk mengajak masyarakat untuk berzakat yang kurang efektif. Maka harus ada inovasi dalam metode guna meningkatkan kesadaran zakat setiap individu, salah satunya sosialisasi zakat melalui animasi berbentuk anime. Metode ini bisa dilakukan sembari mengikuti kebijakan pemerintah untuk tetap di rumah dan menghindari perkumpulan. Pembuatan animasi berbentuk
anime bisa dikerjakan di rumah para creator di rumah masing-masing dan dalam sosialisasinya tidak memerlukan tempat untuk berkumpul. Jadi masyarakat sebagai objek bisa menikmati konten anime melalui tv swasta dan tidak sedikitpun berpotensi untuk tertular virus Covid-19.

Anime adalah istilah film animasi yang sangat terkenal di Jepang hingga
seluruh dunia dan merupakan bentuk diplomasi budaya milik Jepang (Erwindo, 2018). Perlu diketahui, ada ciri khas yang dimiliki anime sehingga membedakannya dengan kartun, antara lain topik yang ditayangkan tentang peristiwa yang dialami manusia, susasana dan emosi yang digambarkan dekat dengan emosi manusia, jalan cerita yang lebih kompleks, dan berbentuk 2D (Sagita, 2018). Menurut sutradara film animasi Battle of Surabaya, Aryanto Yuniawan, film 2D lebih ekspresif untuk menggambar karakter dan warna yang digunakan lebih dapat memengaruhi emosi penonton. Maka tidak heran, anime lebih digemari oleh masyarakat dunia, khususnya Indonesia dibandingkan kartun.

Menurut data dari CNBC Indonesia, Indonesia menempati urutan kedua
penggemar anime di dunia (Muhammad, 2019). Maka tidak heran jika tayangan anime banyak yang disiarkan di televisi Indonesia sejak dulu. Penulis optimis jika fakta ini dimanfaatkan berbagai pihak untuk mensosialisasikan suatu bidang, dalam hal ini zakat, dapat menjadi media pembelajaran yang efektif. Belajar dari animasi Battle of Surabaya yang telah lebih dulu tayang. Film animasi ini berhasil mengajarkan kepada anak-anak tentang kemerdekaan yang didapat rakyat Indonesia adalah sesuatu yang mahal. Film tentang sejarah perang di Surabaya tersebut juga mendapat apresiasi dari banyak pihak bahkan menjadi film animasi
terbaik di Milan International Filmmaker Festival 2017 (Malau, 2017).

Menurut penelitian yang tercantum pada jurnal Izumi, penayangan budaya
Jepang di televisi swasta membuat masyarakat Indonesia mengenal produk
Jepang, khususnya anime (Wahidati, Kharismawati, & Mahendra, 2018). Di
Program Studi Bahasa Jepang Sekolah Vokasi UGM yang aktif pada tahun 2017, ditemukan bahwa sebanyak 62% mahasiswa mengenal bahasa Jepang melalui produk budaya populer Jepang. Bahkan dari 77 mahasiswa, sebanyak 23 mahasiswa tertarik mempelajari bahasa Jepang karena ketertarikan mereka terhadap budaya popular Jepang, termasuk didalamnya anime.

Kemudian dalam cakupan yang lebih luas, Jepang berhasil menarik minat wisatawan ke tempat-tempat yang digambarkan di komik maupun di film animasinya, seperti Washinomiya Jinja yang ada di komik berjudul Raki Suta, patung robot raksasa Gundam di Odaiba, dan Ghibli Studio yang digunakan oleh Hayao Miyazaki, animator pemenang Oscar yang membuat Spirited Away. Fakta tersebut diperkuat dengan jumlah wisatawan yang terus meningkat setiap tahun.

Pada tahun 2019, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Jepang menembus 30 juta orang (Hafizhah, 2019). Dalam bidang fashion, anime juga menyuguhkan model pakaian yang unik dan menarik sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi penggemarnya. Kombinasi warna dan bentuk yang tidak biasa, seringkali diikuti oleh penggemar anime sesuai dengan model busana karakter yang digemarinya. Ini apa yang dikenal secara umum sebagai cosplay Dari 3 bukti diatas, penulis berkesimpulan bahwa anime memiliki pengaruh yang besar pada minat penggemarnya terhadap sesuatu. Bila peluang ini dimanfaatkan secara efektif untuk meningkatkan kesadaran zakat, penulis yakin masyarakat Indonesia yang mayoritas pecinta anime akan lebih sadar terhadap kewajibannya sebagai orang Islam untuk membayar zakat. Bahkan bisa mencintai zakat dan mendorongnya mempelajari Islam lebih dalam di kemudian hari. Didalam Islam tidak ada larangan untuk berdakwah melalui animasi.

Dalam beberapa literatur mengenai dakwah melalui animasi, larangan melukis makhluk hidup berlaku ketika hasil buatannya dijadikan sembahan dan saingan Allah swt. Bila anime digunakan untuk menyebarkan dakwah Islam, maka tidak ada masalah. Mengingat kartun dan animasi telah menjadi media komunikasi yang cukup efektif untuk berdakwah. Gagasan yang penulis paparkan sebagai upaya dari gerakan untuk melawan ajaran yang bertentangan dengan Islam yang seringkali diselipkan pada anime, seperti ajaran satanisme, kelumrahan hubungan seksual dengan lawan jenis yang bukan mahram, ataupun ajaran majusi. Penulis berkesimpulan, dari segi efektivitas, anime cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selanjutnya kemampuan anak bangsa dalam membuat flm animasi tidak begitu mengecewakan, seperti film Battle of Surabaya yang berhasil mendapatkan penghargaan di Milan pada tahun 2017.

Didalam hukum Islam dakwah melalui animasi pun tidak dilarang oleh para ulama. Penulis yakin jika animasi berbentuk anime diaplikasikan semaksimal mungkin oleh lembaga penayangan nasional ataupun pemerintah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berzakat, khususnya di tengah pandemi COVID-19, maka masyarakat Indonesia akan lebih rajin melaksanakan salah satu rukun Islam ini di kemudian hari.

Berbagi Itu Indah (Kisah Sepotong Roti)

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari menceritakan bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.”

Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada AllahSWT. Ibadah yang dilakukannya itu kurang lebih selama tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah di tinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah di tentukannya. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga dia tergoda dalam bujuk rayunya dan hanyut dalam maksiat selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri.

Setelah dia sadar, maka dia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu di tinggalkannya, kemudian dia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan sholatdan bersujud. Akhirnya dalam pengembaraannya itu dia sampai ke sebuah pondok yang di dalamya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan dia juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana. Karena sudah sangat letih dari perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin di pondok itu.

Rupanya di samping tempat tersebut hidup seorang yang setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sepotong roti. Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bagian karena disangka sebagai orang miskin.

Ternyata ada salah seorang di antara orang miskin itu yang tidak mendapat bagian dari orang yang membagikan roti tersebut sehingga kepada orang yang membagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku?” Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu potong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah SWT, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu atau kurang lebih selama tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadah yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukanya selama tujuh malam.

Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sebuah rotiyang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukanya, ternyata amal sebuah roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki amalan dari sebuah roti tersebut.

Dari kisah di atas bisa kita ambil pelajaran bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan pasti akan adapenghitungannya atau pasti ada ganjarannya. Seperti yang termaktub dalam Al-Quran surat Al-Zalzalah ayat 7-8 bahwasannya segala yang kita lakukan baik banyak maupun sedikit pasti adabalasannya. Dan itu pasti karena Tuhan kita Allah maha megetahui atas apa apa yang kita kerjakan.

Harus selalu kita ingat seperti yang termaktub dalam surat Al-‘Alaq ayat 14 bahwasannya Allahmaha melihat, mendengar, mengetahui setiap yang kita lakukan. Di tambah lagi dalam surat Al-Qaafayat 17-18 dijelaskan bahwa kita di temani dua makhluq Allah yang selalu mencatat segala amal kita.Mereka tidak pernah jauh dari kita dan selalu megawasi kita. Maka, sebagai seorang yang beriman (percaya) sudah seharusnya kita merasa bahwa kita selalu di awasi, semoga kita selalu di beri petunjuk oleh-Nya.

Pen: Sintya Kartika Prameswari/Mahasiswi UNIDA Gontor

baca juga:

Kegiatan dan Perlombaan dalam memperingati Anniversary laziswaf ke -10.

Kegiatan dan Perlombaan dalam memperingati Anniversary laziswaf ke -10.

Dalam rangka memperingati hari jadi Laziswaf yang sudah berkiprah 10 selama 10 tahun, Laziswaf UNIDA Gontor mengadakan beberapa acara dan perlombaan untuk merayakanya. Diantara kegitan tersebuat adalah Seminar Nasional, Baksos (Bekam dan Kopi Sedekah), Festival Musik, Bazar, dan berbagai perlombaan seperti fotografi, pembuatan short movie, design poster dan penulisan esai. Perlombaan tidak dipungut biaya pendaftaran.

Pelombaan ini terbuka untuk umum mahasiswa serata S1.

Link pendaftaran serta syarat dan ketentuan bisa diakses di:

http://bit.ly/laziswafanniversary10

Tamparan Sebungkus Nasi

ASTAGHFIRULLAH…
Jangan sampai kedermawanan kita menyakiti sesama 😭😭😭😭 Ceritanya begini,
Bapak ini, pengangkut sampah.
Saat kuhampiri dan kutawarkan nasi
Beliau dengan sumringah mengucap syukur.

Lalu ia berkata,
“Dipoto ( selfie ) dulu mba,”!!! Deg.
Padahal aku tak berniat memotonya, krn posisi berhenti kami persis di depan jalan.. “Pak, maaf ya kalau menyinggung bapak.” “Ga apa-apa mba, kalau orang miskin dapet nasi aja seneng. Walaupun jadi ga punya muka.” Ya Rabb..
Faghfirlii
Faghfirlii.. Lantas aku duduk menemaninya.

Berceritalah dia.
Dulu, saat awal-awal ada yang bagi nasi ia sangat malu ketika harus difoto. Bahkan sempat tersinggung dengan seseorang yang memberi nasi bungkus dgn cara waktu menerima nasi bungkus harus menghadap ke camera untuk di poto

Namun seiring waktu, perut ternyata lebih penting dari ego.

Ia tak lagi berkeberatan difoto bersama pemberi nasi bungkus dan tak juga mempermasalahkan harus menghadap ke camera

Asalkan sebungkus nasi bisa mengganjal perutnya. “Ya mba, kalo dapet nasi kan bapak bisa nyisihin 10 ribu buat dibawa pulang.” Katanya sambil menyuap nasi bungkus.

Aku rasanya ditabok tabok sama si bapak.
Ya Allah.. Jangan sampai kedermawanan membuat kami lalai.
Jangan sampai sebungkus nasi merendahkan mereka..
Jangan sampai hati mereka terluka.
Jangan sampai kesombongan mampir di benak kita saat memberikan nasi😢

Ah, pak.
Doakan saya dan teman-teman agar bisa berbagi tanpa melukai ya pak.
Doakan kami agar bisa berbagi namun tetap menghargai❤️ Karena sungguh, kita sedang memperjuangkan surga.
Jangan sampai, perjuangan ini ternoda dan kita tergelincir bersama dalam kobaran api neraka.

Naudzubillah tsumma naudzubillah
Doakan kami ya, teman-teman agar selalu lillah dalam perjuangan ini.
Dan aku pun selalu mendoakan teman-teman, agar Allah luaskan rezekinya untuk terus membersama dalam ikhlas bersedekah
Allah yubaarik fiikum