Dengki menurut KBBI merupakan menaruh perasaan marah (benci, tidak suka) karena iri yang amat sangat kepada keberuntungan orang lain. Perasaan ini timbul ketika seorang yang tidak memiliki sesuatu keunggulan baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya.

           Kemudian dengki atau biasa disebut dengan hasad ini berasal dari bahasa Arab yag artinya iri hati. Ini merupakan perbuatan tercela karena orang yang bersifat dengki (hasad) akan melakukan perbuatan yang melanggar norma, baik norma agama maupun norma sosial.Norma agama yang dilanggar bisa berupa berbohong  seperti menjelekkan orang lain yang dianggap memiliki prestasi dan ia iri terhadapnya. Ini jelas melanggar ketentuan agama, dimana agama tidak mengajarkan untuk berbohong apalagi sampai menjelekkan orang lain ini dapat menimbulkan fitnah.

Dalil yang meyatakan tentang hal ini adalah :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab : Ayat 58 )

           Dengki (hasad) ini juga melanggar norma sosial. Orang yang dikuasai hatinya oleh rasa dengki (hasad) akan dibutakan bahkan hilang rasa kasih dan sayang dari dirinya. Sehingga kemudian ia bisa saja mencelakai orang lain, bahkan sampai ada kasus pembunuhan antar saudara hanya kerena sifat dengki (hasad) atas pencapaian yang diperoleh saudaranya. Ini jelas merupakan tindakan yang bertolak belakang dengan norma sosial.

Sumber hukum yang jelas dilanggar dalam hal ini adalah :

Sila kedua dalam sumber hukum negara (Pancasila)

“Kemanusiaan yang adil dan beradab”

            Kisah yang dapat membuka fikiran kita terhadap dengki (hasad)  terjadi ketika zaman khalifah al-Mu’tashim. Suatu ketika khalifah al-Mu’tashim mengangkat seorang Arab badui (suku bangsa pengembara di tanah Arab) menjadi orang kepercayaannya. Hal ini membuat sang mentri cemburu terhadap orang badui tersebut. Sang mentri ingin membunuh orang badui tersebut kerena dalam fikirannya terbesit bisa saja orang badui ini mengambil hati Amirul Mukminin dan melangkahinya di kemudian hari.

            Berbagai cara dilakukan oleh sang mentri untuk menjatuhkan orang kepercayaan Amirul Mukminin tersebut. Suatu ketika ia mengajak orang badui ini kerumahnya untuk dijamu dengan berbagai macam makanan, dimsaknya makan-makanan tersebut dengan mencampur sebanyak- banyak nya bawang merah. Lalu sang mentri mengatakan bahwa bau mulut yang disebabkan bawang merah sangat tidak disukai oleh Amirul Mukminin, ini membuat orang badui selalu menutup mulutnya ketika bertemu Amirul Mukminin.

            Disisi lain sang mentri menceritakan kepada Amirul Mukminin bahwa orang arab badui menyebarkan fitnah bahwa mulut Amirul Mukminin sangat bau bahkan sampai membuat orang arab badui sesak nafas dan merasa hampir mati.

            Tatkala orang Arab badui mengahadap Amirul Mukminin seorang diri dengan menutup mulutnya, Amirul Mukminin merasa tersinggung dan membenarkan perkataan sang mentri akan hal yang pernah disampaikannya beberapa waktu lalu. Lalu Amirul Mukminin memberika tugas kepada orang arab badui untuk mengirimkan surat. Yang ternyata didalam surat itu berisikan “Bila pesan ini sampai kepadamu, maka penggal-lah leher si pengantar surat !” . Tentunya orang arab badui tidak mengetahui hal ini karena ketika menerima surat itu, surat itu sudah tersegel dengan baik.

            Kemudian ditengah jalan bertemulah orang arab badui ini dengan sang mentri, kemudian orang arab badui mengatakan bahwa dia diberikan tugas untuk mengirimkan surat kepada fulan. Sang mentri mengira bahwa upah dari tugas tersebut sangatlah besar dan ia tak mau jika upah yang begitu besarnya diberikan kepada orang arab badui. Kemudian sang mentri meminta surat tersebut dan berkata biar ia langsung yang mengatarkannya. Karena kemurnian hati dan merasa bahwa memang mentri adalah sang penegak keadilan yang lebih paham akan berbagai perkara kenegaraan maka ia serahkanlah surat tersebut kepada sang mentri.

            Inilah bukti balasan bagi orang yang dengki (hasad), sifat dengki (hasad) bisa membawa petaka pada diri sendiri alih-alih orang lain. Inilah akibat yang ditimbulkan dari dengki (hasad) Allah langsung menghukumnya di dunia lalu bagaimana dengan dosa yang ditimbulkan dari dengki (hasad) tentunya ini akan dipertanggung jawabkan di yaumul hisab kelak. Maka dari itu senantiasalah untuk berlindung kapada Allah SWT agar kita selalu dalam naungan dan lindungannya, dan terhindar dari sifat dengki (hasad).

            Allah sudah memerintahkan kita untuk menjauhi sifat dengki sebagaimana termaktub dalam firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

            Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat : Ayat 12)

            Dan ada beberapa cara agar dapat mengurangi dan menghilangkan rasa dengki(hasad) di dalam diri kita:

  • Perbanyak Istighfar, Dalam artian kita memohon ampun kepada Allah SWT atas apa yang kita lakukan. Kita memohon ampun dan menyadari bahwasanya perbuatan yang kita lakukan kepada orang lain itu tidak benar.
  • Bersyukur atas apa yang dimiliki, Menurut Abi M. Quraisy Shihab, bahwa salah satu untuk mengurangi sifat dengki dengan cara kita bersyukur atas apa yang dimiliki.
  • Berhenti membandingkan diri dengan orang lain, Setiap orang memiliki kehidupan, pekerjaan, keluarga dan kondisi finansial yang berbeda-beda dan maka dari itulah kita tidak bisa terus menerus membandingkan diri kita dengan orang lain.
  • Mengubah pola Fikir, dengan kita mengubah pola fikir kita dalam hal berfikiran jelek kepada orang lain itu dapat mengatasi rasa dengki(hasad) dalam diri kita.
  • Berfikiran logis, Tanpa kita sadari di saat kita memiliki rasa dengki(hasad) tanpa kita sadari kita pun tidak mengetahui kehidupan orang lain yang sebenarnya, ibarat pepatah rumput tetangga memang selalu lebih hijau.

           Dengki (hasad)  merupakan sifat yang tercela baik dari sudut pandang agama maupun sosial. Agama dengan jelas melarangnya karena akan berakibat buruk terhadap manusia itu sendiri, begitupun menurut sudut pandang sosial. Kita pun disuruh menjauhi sifat ini, karena selain mencelakakan diri sendiri sifat ini juga menghancurkan orang lain. Jelas sudah dengki (hasad) harus dijauhi. (Maheswara Rafif Abhirama)

Kategori: Lain-lain

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *