الزَمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ السَّنَةُ اِثْنَا عَشَرَا شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مٌتَوَالِيَاتٌ ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ والمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ.(رواه البخارى)

“Zaman (waktu) itu terus berputar sebagaimana keadaan hari dimana Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri dari dua belas, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab yang terletak di antaran bulan Jumada dan Sya’ban.’’[1]

Infrastruktur kebijakan pemerintah dalam mengambil tindakan di Indonesia menjadi dilema profitabilitas pada PPKM. Instruksi Mentri Dalam Negeri Nomor 15 tahun 2021 tentang PPKM Darurat Corona Virus Disease 2019 di wilayah Jawa dan Bali menjadi babak baru pemberlakuan pembatasan sosial pada second wave Covid-19 di Indonesia.[3] Ulasan masyarakat yang berdalih bahwa pada kegiatan WFH (work from home) yang mengharuskan seluruh masyarakat bekerja di rumah, menjadi boomerang bagi loyalitas manajemen kebanyakan. Mengingat pandemi Covid-19 di Indonesia yang tidak ada habisnya, ketentuan pemerintah akhirnya terbagi-bagi sebagai tanda pencegahan dari penyebaran virus tersebut.

Dalam memperingati tahun baru Hijriyah, umat Islam diseluruh dunia berbondong-bondong untuk memperingati bulan tersebut. Pada dasarnya setiap bulan dalam Islam itu sama, akan tetapi tidak ada perbedaan dalam kesuciannya dibanding dengan bulan-bulan lain. Ketika Allah SWT memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatNya, maka Allah SWT yang memiliki kebesaran itu atas kehendakNya. Bulan Muharram benar-benar istimewa karena disebut Syahrullah yaitu bulan Allah, dengan disandarkan pada lafazh Allah. Disandarkannya bulan ini pada lafazh jalalah Allah, menunjukkan keagungan dan keistimewaan.[2] Ada banyak keistimewaan yang melekat di bulan tersebut, salah satunya kisah Nabi Musa As dengan Raja Fir’aun.

Dalam keadaan pandemi seperti saat ini, memperingati tahun baru Islam, masyarakat Indonesia menjadikan bulan ini sebagai bulan kemuliaan serta keagungan. Bulan ini tetap diberikan kepada siapapun yang dapat memanfaatkannya dengan penuh keikhlasan dan mengharap ampunan dari Allah SWT. Amalan-amalan sunnah yang diperintahkan oleh baginda Rasullah SAW dapat dikerjakan selama bulan tersebut. Walaupun perintah amalan tersebut merupakan sunnah, tidak ada ruginya jika diri melakukan amalan tersebut sebagai amalan wajib. Mendisiplinkan diri dengan perintah-perintah Allah SWT guna meningkatkan spiritualitas pada diri kita.

Cara Memperingati Tahun Baru Hijriyah

Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk mengikuti Rasulullah SAW. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. An-Nisa/4: 80 yang artinya, “Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah SWT, dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kamu tidak mengutusmu untu menjadi pemelihara bagi mereka.” Dengan cara mengikuti ketentuan yang terdapat dalam al-Qur’an, baik berupa perintah-Nya maupun larangan-Nya. Sedang menaati Nabi Muhammad SAW dengan cara mengkuti sunnah-Nya. Terdapat dalam hadist Nabi SAW;

حدثنىِ مالكٍ. أنه بلغه أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُوْا مَاتَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا :كِتَابُ الله وسُنَّةَ نَبِيْهِ. (رواه ملك).[4]

Artinya: “Diceritakan kepadaku dari Malik, Bahwasanya dia menyampaikan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda: ‘Telah aku tinggalkan untukmu dua perkara, kamu sekali-kali tidak akan sesat apalagi berpegangan pada keduanya (yakin), kitabullah dan sunnah Nabi-Nya. (HR. Malik).

Keistimewaan dalam memperingati tahun baru Islam sebagaimana umat manusia terdahulu para sahabat Nabi, tabi’ dan tabi’in memperingati bulan Muharram. Diantaranya ibadah istimewa pada bulan Muharram adalah Puasa, Sedekah dan Muhasabah (Memperbaiki diri). Puasa sunnah yang dikerjakan pada bulan Muharram adalah puasa ‘Asyura. Berdasarkan syari’at Islam, terdapat sebuah haru yang dikenal dengan istilah yaumul ‘asyura yaitu hari tanggal sepuluh bulan Muharram, yang menunjukkan sebagai hari bersejaran yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga. Dengan puasa sunnah ‘asyura niatkan diri hanya menggapai keridhaan Allah SWT.

Dalam Hadist riyawat Bukhari dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah mendapati orang Yahudi dan Nasrani berpuasa pada hari ‘Asyura. “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, telah menceritakan kepada kami Ayyub Sakhtiyaniy dari Ibn Said ni Jubair dari Ayahnya dari Ibn ‘Abbas ra. Berkata: Sesungguhnya pada saat Rasulullah SAW sampai di Madinah dia mendapati orang Yahudi dan Nasrani berpuasa pada hari itu, yakni hari ‘Asyura. Mereka berkata ini adalah hari yang diagungkan yaitu Allah SWT telah melepaskan Musa dan umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa bersabda: aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka. Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh pasa sahabatnya agar berpuasa juga.”[5]

Akidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syari’ah merupakan penjabaran dari konsep islam dan akhlak menjadi penjabaran dari konsep ihsan. Kedinamisan dan fleksibilitas Islam terlihat dalam ajaran-ajaran yang terkait dengan hukum Islam. Hukum islam mengatur dua bentuk hubungan, yaitu Hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketiga kerangka dasar islam tersebut merupakan penjabaran dalam ayat-ayat Al-Qur’an: “Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran supaya menetapi kesabaran.”[6]

Amalan selanjutnya yang dapat dijalankan dengan pengharapan ridha Allah SWT yaitu Bersedekah, Bersyukur, dan menjalankan amalan-amalan sholehlainnya.  Bersedekah tidak akan membuat kita miskin, tetapi membuat kita tampak lembih bersyukur atas karunia rahmat yang Allah SWT berikan. Banyak realita yang dapat menjadi contoh ketika ia mendapatkan musibah kemudian ia bersedekah, niscaya Allah akan membantunya dalam mendapatkan solusi tersebut.

Bersedekah dalam ajaran nabi tidak butuh banyak-banyak, sedikit tetapi ikhlas adalah kunci dalam kebahagiaan yang hakiki. Sedangkan banyak kemudian Riya’ (ingin dilihat) maka, niscaya ia tidak akan mendapatkan kesempurnaan daripada berkah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 245, Allah SWT berfirman: “Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”[7]

Muharram sebagai ladang Muhasabah diri

Amalan lainnya adalah muhasabah atau introspeksi diri. Hal ini penting dilakukan oleh setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal saleh sebagai persiapan mengadapi kematian.”[8] Evaluasi ketaqwaan dapat dilihat dari tiga aspek yaitu iman, islam dan ihsan.

Pertama, tinggi rendahnya keimanan dapat dilihat dari sisi tauhid, seperti memastikan tidak adanya perbuatan syirik, suudzan, atau kemusyrikan yang dilakukan pada tahun sebelumnya. Kedua, evaluasi tentang islam, Islam intinya adalah rukun islam, seperti tentang shalat yang dikerjakan dapat memaknai shalat itu bagi kehidupan. Untuk mengetahui tingkat keislaman. Karena orang yang dapat melaksanakan shalat dengan baik, tentu jauh dari perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang masih melakukan kemungkaran dapat dipastikan shalatnya belum efektif dan belum berpengaruh dalam kehidupannya. Ketiga, evaluasi tentang ihsan, yaitu akhlak, pribadi, sosial maupun di ruang umum. Akhlak pribadi dilihat dari kebiasaan seseorang, apakah sudah sesuai ajaran islam atau belum. Akhlak publik yaitu evaluasi perilaku saat berada di tempat umum seperti jalan raya, buang sampah, maupun bertegur sapa. Akhlak sosial, saat penting dan mampu mengetahui akhlak pada sesorang.

Orang yang beruntung adalah orang yang mau mengoreksi dirinya sendiri, berfikir tentang umurnya yang telah di habiskan lalu menggunakan waktunya dengan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi agama dan dunianya. Lalu siapa yang lalai tentang dirinya maka ia akan dipotong oleh waktunya. Semakin tertinggal semakin besar kerugian yang ia dapatkan, maka jangan meremehkan waktu dan menyia-nyiakannya. Kita akan menghadapi tahun baru dengan hari-hari yang baru juga. Tahun lama menjadi saksi akan perbuatan kita, dan tahun baru adalah tahun yang menjadi ladang pembentukan diri kita kedapannya. Maka, yang menjadi kewajiban bagi kita adalah untuk selalu mengoreksi jiwa-jiwa kita dalam spiritualitas.

Introspeksi diri bukan hanya terbatas pada hari dalam bulan Muharram saja, namun membutuhkan pada setiap waktu sepanjang hayat. Karena siapa yang mau membiasakan dirinya berintrospeksi maka keadaannya akan menjadi baik, amal sholehnya terus membaik, dan kesholehannya semakin meningkat. Hal ini akan melatih diri untuk senantiasa berefleksi atas segala kekurangan yang ada dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Inilah momentum tahun baru Hiriyah di kala pandemi Covid-19 menjadi implikasi brand new day bagi seluruh umat manusia dalam menggapai akhirat dengan niat lillahi ta’ala.


[1] HR. Al-Bukhari

[2] Abul ‘Ala Muhammad Abd ar-Rahman Al Mubarakfuri Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Jami’ al-Turmudzi, (Beirut: Darul Kutub Al ‘ilmiyyah, t.th) Juz 3, h. 368.

[3] Adrian Wijanarko, Dilema Profitabilitas dalam PPKM, JurnalParamadina Public Policy Review, Juli 2021.

[4] Imam Malik bin Anas, al-Muwatta’ (Bairut: Dar al-Fikr, 1989), h. 602.

[5] HR. Bukhari

[6] QS. Al-Ashr/1-3

[7] QS. Al-Baqarah/245

[8] HR. Bukhori


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *