Bagi umat Muslim di seluruh dunia, bulan Dzulhijjah biasa disebut hari Raya kurban atau bulan haji ini merupakan bulan yang selalu dinanti dan ditunggu. Dewasa ini aplikasi dalam berkurban semakin meningkat. Hewan kurban seperti sapi, kambing, domba, dan unta siap untuk menjadi kurban dalam peristiwa tersebut. Sejumlah persiapan berkurban dimaksimalkan pada bulan Dzulhijjah, berbagai poster berkurban, sumbangan hewan kurban, hingga relawan gerakan berkurban telah di sebarluaskan dalam media cetak, online maupun informasi.

Perintah amalan-amalan dalam bulan Dzulhijjah dalam Al-Qur’an surat AlHajj ayat 34-35: “Dan bagi setiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).”

“(yaitu) orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah hati mereka bergetar, orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang yang melaksanakan salat dan orang yang menginfakkan sebagian rezeki yang kami karuniakan kepada mereka.”1 Asrorun Niam mengatakan, dalam menyongsong Idul Adha 1442 H untuk fisik dan mental harus disiapkan disertai pemahaman dan cara baru menjalankan ibadah di tengah pandemi Covid-19 dengan tetap dalam koridor syariah.“2 Covid- 19 bukan halangan untuk beribadah. Hindari kerumunan yang dapat meyebarkan virus, pemahaman tata cara ibadah juga harus diadaptasikan dengan situasi dan kondisi saat ini,”katanya.

Dalam ruang lingkup pendidikan, ekonomi, sumber daya manusia hingga politik. Dewasa kini sangat berpengaruh akan pertimbangan masalah selama pandemi covid-19 masuk ke Negara kita Indonesia. Setelah 2 tahun berjalan pandemi menjadi bomerang bagi seluruh ummat manusia dalam menjalankan ibadah dengan baik. Pemerintah memberikan kebijakan kepada seluruh pribumi untuk senantiasa menjaga protokol kesehatan, mulai dari memakai masker, menjaga jarak, mengkonsumsi vitamin dan menjaga pola makan dengan baik dan benar.

“Berjumpa dengan bulan Dzulhijjah merupakan nikmat yang besar bagi orang – orang yang dianugerahi taufik oleh Allah SWT”.3 Kalimat penuh makna ini disampaikan oleh salah satu ketua intelektual Islam Aceh yang berkecipung dalam bidang MIUMI (Majelis Inteletual & Ulama Muda Indonesia). Saat itu beliau menghadiri acara bakti sosial “Relawan Berkurban” secara online. Walau dilakukan secara online tidak menggoyahkan sosok intelektual muda tersebut untuk berkhidmad kepada Negara dan Agama.

Jika pada lingkup masyarakat luar tersebut menjalankan ibadah hari Raya Idul Adha 1442 H secara online, Maka masyarakat Darussalam kampung nan damai dapat menjalankannya dengan baik dan benar. Sesuai dengan ibadah syariah dan menjalankan protokol kesehatan selama hari Raya kurban berlangsung. Kemudian, perlunya untuk semua civitas akademika UNIDA Gontor kampus putri dalam menjalankan ibadah hari Raya Idul Adha 1442 H secara kaffah agar mendapat kesempurnaan ridha Allah SWT.

Keterlibatan Mahasiswa dalam melaksanakan hari Raya kurban ini menjadi titik pusat kesuksesan dalam penggapaian kebahagiaan dunia dan akherat. Maka, gerakan 3B (Berkurban, Berpuasa dan Bersedekah) ini dilakukan dilingkungan pendidikan pesantren. Walaupun dengan ibadah sunnah dalam syariat islam, gerakan 3B ini dilaksanakan secara wajib dilingkungan pendidikan pesantren. Mulai dari santriwati PMDG kampus Putri sampai civitas akademika UNIDA Gontor kampus Putri.

Berikut persiapan gerakan 3B (Berkurban, Berpuasa, dan Bersedekah) yang perlu dilakukan civitas akademika UNIDA Gontor kampus putri dalam merayakan hari Raya Idul Adha 1442 H selama Pandemi Covid-19 di kala PPKM:

Berkurban dengan hewan kurban

Pelaksanaan shalat Idul Adha dan penyembelihan kurban mengikuti anjuran syari’at islam dengan selalu menjaga protokol kesehatan selama acara berlangsung. Kemudian menjalankan ibadah amalan sunnah sebelum pelaksanaan tersebut. Berbeda dengan bulan suci Ramadhan, ketika bulan suci Ramadhan pada hari Raya Idul Fitri disunahkan untuk makan dan minum sebelum melaksanakan shalat Idul Fitri. Sedangkan pada bulan Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal 18-19 Dzulhijjah (puasa Tasyrik) dan disunnahkan untuk tidak makan dan minum walau sedikit sebelum melaksanakan shalat Idul Adha.

Dalam QS. Al Kautsar ayat 2 dan hadist Nabi SAW dijelaskan bahwa: “Maka laksanakanlah shalat karena tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT)”4

“Dari Abu Hurairah, ‘Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami.”5

Keutamaan berpuasa di bulan Dzulhijjah (Puasa Arafah)

Puasa Arafah adalah amalan yang disunnahkan bagi orang yang tidak berhaji. Dari Abu Qotadah ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro’ (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu”6

Selain puasa Arafah disunnahkan untuk memperbanyak doa, karena sebaikbaiknya doa adalah doa pada hari Arafah. Waktu memperbanyak doa dilakukan pada 9 Dzulhijjah ba’da subuh sampai waktu ashar pada hari Tasyrik terakhir yaitu
tanggal 13 Dzulhijjah.

Perbanyak amalan Shaleh seperti bersedekah

Amalan selanjutnya yang dapat dijalankan dengan pengharapan ridha Allah SWT yaitu Bersedekah. Bersedekah tidak akan membuat kita miskin, tetapi membuat kita tampak lembih bersyukur atas karunia rahmat yang Allah SWT berikan. Banyak realita yang dapat menjadi contoh ketika ia mendapatkan musibah kemudian ia bersedekah, niscaya Allah akan membantunya dalam mendapatkan solusi tersebut.


Bersedekah dalam ajaran nabi tidak butuh banyak-banyak, sedikit tetapi ikhlas adalah kunci dalam kebahagiaan yang hakiki. Sedangkan banyak kemudian Riya’ (ingin dilihat) maka, niscaya ia tidak akan mendapatkan kesempurnaan daripada berkah. Dalam surat Al- Baqarah ayat 245, Allah SWT berfirman: “Siapakah yang memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNyalah kamu dikembalikan.7

Suri tauladan pada implikasi kehidupan pendidikan pesantren dalam menjalankan ibadah Idul Adha 1442 H menjadi salah satu penggapaian keridhaan ilahi. Banyak sportifitas yang harus dilakukan dengan mengadakan G-3B dilingkup perguruan tinggi pesantren yaitu, Berkurban, Berpuasa dan Bersedekah. Semoga keistiqomahan Mahasiswi UNIDA Gontor Putri dapat meningkat dalam sisi ubudiyah, ruhuiyyah serta kepribadian spiritual keagamaannya.

Oleh Sintya Kartika Prameswari/ PAI 7


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *