MENAGAPA HARUS WAQAF???

Ayat Alquran yang menjadi rujukan wakaf adalah Ali Imran 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.

Kita dianggap belum mencapai kebajikan sempurna sebelum menginfakkan sebagian harta yang kita cintai. Jadi, kata kunci wakaf adalah “Cinta”.

Jika seorang hamba sudah mencapai derajat Mahabbah atau Cinta kepada Allah, maka apapun akan diserahkan bagi sang kekasih, tanpa perlu berfikir dan berlogika.

Ajakan berzakat dan bersedekah disampaikan dengan iming-iming pahala 10 hingga 700 kali lipat. Namun, pahala wakaf tidak menyebutkan angka tertentu melainkan “Pahala Jariyah”, yaitu mengalir abadi hingga akhirat.

Sehingga, tepatlah ungkapan yang menyebutkan, “Manusia yang paling beruntung adalah mereka yang telah terputus nafasnya, namun pahalanya terus mengalir tiada henti.”

Ayat tentang zakat dan sedekah bisa disebut sebagai ayat konsumtif, sedangkan ayat tentang wakaf disebut ayat investasi. Pahala Zakat dan sedekah hanya mengalir sekali waktu sesuai dengan obyeknya yang habis dikonsumsi. Sedangkan, pahala wakaf mengalir berulang kali karena aset wakaf tetap terjaga keberadaannya dan terus produktif mengalirkan manfaat bagi ummat.

Hadis Muslim yang menjadi rujukan wakaf yaitu, “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amal kebaikannya kecuali tiga perkara yaitu Sedekah jariyah atau Wakaf, anak shaleh yang mendoakan orang tuanya dan ilmu yang bermanfaat”.

Kita rela menghabiskan harta, bahkan rela berutang demi mencari ilmu atau mendidik anak. Hal itu terjadi karena kita yakin bahwa ilmu dan anak adalah investasi yang akan menolong kita di kemudian hari.

Demikian pula halnya dengan wakaf, wajarlah jika kita rela menghabiskan harta untuk membangun aset wakaf, karena yakin wakaf akan menjadi penolong di dunia hingga akhirat. Itulah sebabnya ayat Al Munafiqun:10 yang mengisahkan penyesalan seorang mayit di dalam kubur yang minta dihidupkan kembali ke dunia barang sejenak agar ia bisa bersedekah. Bukan untuk salat, puasa, atau haji, tapi keinginannya hanya satu yaitu bersedekah, terutama wakaf.

Ada satu ungkapan bangsa Mesir yang sangat populer yaitu, “Janganlah kalian mati, sebelum kalian berwakaf.”

Jadi, Untuk berwakaf tidak perlu harus menunggu kaya. Dengan berwakaf uang, maka siapapun bisa berwakaf dan berhak menyandang gelar terhormat menjadi wakif atau pewakaf.